Coba deh bayangin! Sobat UVERS sedang duduk di sebuah kafe, menyantap burger berwarna hijau terang, bukan karena efek pencahayaan, tetapi karena bahan dasarnya adalah bayam, kacang-kacangan, dan jamur. Di tengah tren gaya hidup sehat, diet vegan semakin menarik perhatian, bahkan menjadi gaya hidup baru di kalangan urban. Tapi, benarkah diet vegan sebaik itu untuk kesehatan?

Apa Itu Diet Vegan?

Diet vegan adalah pola makan yang sepenuhnya menghindari produk hewani—bukan hanya daging dan ikan, tapi juga produk turunan seperti telur, susu, dan madu (Siloam Hospitals, n.d.). Berbeda dengan vegetarian yang masih mengonsumsi produk turunan hewan, veganisme adalah komitmen total terhadap konsumsi nabati.

Alasan orang menjalani diet vegan pun beragam, mulai dari kepedulian terhadap kesejahteraan hewan, isu lingkungan, hingga motivasi untuk meningkatkan kesehatan tubuh. Namun, terlepas dari motivasinya, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah diet vegan benar-benar memberikan manfaat kesehatan yang signifikan?

Fakta Ilmiah di Balik Diet Vegan

Beberapa studi menunjukkan bahwa diet vegan dapat memberikan manfaat kesehatan tertentu, terutama dalam hal penurunan berat badan, pengendalian gula darah, serta penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan hipertensi (American Dietetic Association, 2009). Makanan nabati cenderung tinggi serat, rendah lemak jenuh, dan bebas kolesterol, sehingga dapat membantu menjaga kesehatan jantung.

Lebih lanjut, pola makan vegan dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes tipe 2 dan beberapa jenis kanker (Craig & Mangels, 2009). Bahkan, beberapa wanita dengan kondisi sindrom ovarium polikistik (PCOS) melaporkan perbaikan gejala setelah menjalani pola makan berbasis nabati. Menurut ahli gizi, makanan tinggi serat dan rendah indeks glikemik dalam diet vegan dapat membantu menstabilkan hormon serta mengurangi resistensi insulin—dua faktor penting dalam penanganan PCOS (Narasi, 2023).

Tidak Semua Serba Positif

Namun, di balik manfaatnya, diet vegan juga memiliki tantangan tersendiri. Jika tidak dirancang dengan baik, diet ini berpotensi menyebabkan kekurangan beberapa nutrisi penting, seperti vitamin B12, zat besi, omega-3, dan protein berkualitas tinggi (Craig & Mangels, 2009). Kekurangan ini bisa berdampak pada energi, fungsi otak, dan sistem kekebalan tubuh.

Penting untuk diingat bahwa tidak semua makanan vegan otomatis sehat. Produk-produk olahan vegan, seperti “daging” tiruan atau camilan tinggi gula, tetap dapat mengandung bahan aditif dan kadar natrium yang tinggi. Oleh karena itu, prinsip “makan makanan utuh, alami, dan seimbang” tetap menjadi kunci, terlepas dari pola makan yang dianut.

Jadi perlu diingat bahwa efektivitasnya sangat bergantung pada bagaimana diet tersebut dirancang dan dijalankan yaa sobat UVERS!

 

Referensi:

Craig, W. J., & Mangels, A. R. (2009). Position of the American Dietetic Association: vegetarian diets. Journal of the American Dietetic Association, 109(7), 1266–1282. https://doi.org/10.1016/j.jada.2009.05.027

Narasi. (2023). Mitos vs Fakta: Benarkah Diet Vegan Bisa Memperbaiki PCOS? Retrieved from https://narasi.tv/read/narasi-daily/mitos-vs-fakta-benarkah-diet-vegan-bisa-memperbaiki-pcos

Siloam Hospitals. (n.d.). Apa Itu Vegan? Retrieved from https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-vegan

Mahasiswa Universitas Universal (UVERS) kini memiliki peluang istimewa untuk melanjutkan studi jenjang S2 dan S3 ke Beijing Foreign Studies University (BFSU), salah satu universitas terkemuka di Tiongkok. Kesempatan ini hadir berkat kerja sama antara UVERS dan BFSU yang bertujuan memperluas akses pendidikan global bagi mahasiswa Indonesia, khususnya yang berasal dari Kepulauan Riau.

Program ini secara resmi diumumkan pada kegiatan perkenalan International Business School (IBS) BFSU pada Selasa (06/05) bertempat di Ruang Auditorium R-500. Dalam pertemuan tersebut, BFSU membuka peluang bagi lulusan strata satu untuk melanjutkan studi pascasarjana, baik di program magister maupun doktoral, dengan beragam pilihan program studi yang diajarkan dalam Bahasa Inggris dan Mandarin.

Kegaiatan seminar yang bertajuk “Becoming A Global Quality Person: Preparing for Academic and Cultural Life in Beijing” dibawakan langsung oleh Ms. Lin Min selaku Direktur International Student Office, International Business School of Beijing Foreign Studies University. Kesempatan ini merupakan hasil dari inisiatif UVERS untuk memperluas jaringan internasional dan memberikan pengalaman belajar lintas budaya kepada mahasiswa.

Dengan dibukanya jalur ini, mahasiswa UVERS tidak hanya mendapat akses pendidikan berkualitas internasional, tetapi juga peluang untuk membangun jejaring global dan meningkatkan daya saing di tingkat regional dan internasional. Informasi lebih lanjut terkait pendaftaran, program studi, serta jenis beasiswa yang ditawarkan dapat diakses melalui laman resmi BFSU maupun kantor urusan internasional UVERS. (Sh)

“Scroll… skip… swipe lagi.”

Kalimat ini bukan cuma kebiasaan, tapi sudah jadi gaya hidup digital sebagian besar Gen Z. Aplikasi seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts memang menyenangkan. Visual menarik, audio yang catchy, dan durasi yang pendek bikin kita betah nonton berjam-jam. Tapi, di balik semua itu, ada satu hal yang mulai terganggu tanpa kita sadari: kemampuan fokus.

Apa itu Tiktokification?

TikTokification adalah istilah yang menggambarkan tren konten video berdurasi pendek yang kini mendominasi platform digital. Konten-konten ini dibuat sesingkat dan sepadat mungkin agar penonton tertarik sejak detik pertama, bahkan sejak thumbnail muncul. Yang jadi masalah, semakin sering kita mengonsumsi konten seperti ini, otak kita semakin terbiasa mencari hal-hal baru secara instan yang akhirnya kita jadi sulit bertahan di satu hal untuk waktu lama.

Fenomena ini bahkan disebut sebagai bagian dari “attention economy”, di mana perhatian pengguna adalah komoditas. Semakin lama kita scroll, semakin banyak iklan yang bisa ditampilkan, dan semakin besar pula keuntungan bagi platform sosial media (Albright, dalam Digital Media Journal, 2023).

Efek ‘Endless Scroll’

Kita semua mungkin pernah mengalami yang disebut endless scroll. Ambil HP sebentar, buka TikTok, niatnya cuma 5 menit, tapi tau-tau udah sejam lewat. Fenomena ini terjadi karena algoritma aplikasi terus memberikan kita konten yang relevan dan menghibur. Enggak ada jeda untuk berhenti. Akibatnya, waktu layar makin lama, terutama di kalangan anak muda. Data dari Microsoft Canada (2015) menyebutkan bahwa rata-rata rentang perhatian manusia saat ini hanya 8 detik loh

Dampaknya di Dunia Nyata

Dampak dari TikTokification tidak cuma soal hiburan. Ini mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari Gen Z, seperti:

  • Susah fokus saat membaca teks panjang
  • Cepat bosan saat ikut kuliah atau meeting online
  • Cenderung melakukan banyak hal sekaligus (multitasking)
  • Berkurangnya kemampuan berpikir reflektif dan kritis

Dalam jangka panjang, ini bisa memengaruhi cara belajar, bekerja, bahkan cara bersosialisasi. Tantangan baru muncul, terutama bagi pendidik dan organisasi yang ingin menjangkau Gen Z dengan lebih efektif.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Tenang, bukan berarti kita harus uninstall semua aplikasi. Tapi, kita bisa mulai mengatur ulang cara kita mengonsumsi konten digital:

  • Atur batas waktu penggunaan media sosial
    Gunakan fitur screen time untuk mengontrol durasi.
  • Jangan buka HP di tempat tidur
    Biar istirahat benar-benar jadi waktu istirahat.
  • Lakukan aktivitas non-digital
    Seperti baca buku fisik, olahraga, atau ngobrol langsung.
  • Biasakan konsumsi konten panjang secara bertahap
    Dengarkan podcast atau tonton dokumenter pendek dulu, nanti bisa meningkat.
  • Latih fokus dengan teknik Pomodoro
    Fokus 25 menit, istirahat 5 menit. efektif banget buat kerja dan belajar.

TikTokification mungkin terdengar sepele, tapi dampaknya nyata. Di tengah derasnya konten instan, penting bagi Gen Z untuk sadar bahwa fokus dan konsentrasi adalah aset penting. Jangan biarkan semua like dan swipe mengalihkan potensi kamu. Sesekali, berhenti sejenak, tarik napas, dan fokus ke satu hal. Karena kadang, deep work lebih powerful dari deep scroll.

Baca Juga :

FOMO di Era Digital : Mengapa Ini Terjadi dan Bagaimana Mengatasinya?

Sumber:

Davidson, J. (2021). The Attention Economy and the Rise of Short-Form Video. Journal of Digital Media, 14(2), 45–56.
Microsoft Canada. (2015). Attention spans: Consumer insights. Retrieved from https://time.com/3858309/attention-spans-goldfish/
Albright, J. (2023). TikTok Brain and the Concentration Crisis. Digital Media Journal, 17(1), 22–37.

https://media.lsu.co.uk/2025/04/24/scroll-culture-the-tiktokification-of-our-attention-spans/

“Judul skripsi udah nemu belum?”. Kalimat pendek yang bisa bikin jantung mahasiswa tingkat akhir berdebar lebih cepat daripada notifikasi dosen pembimbing. Faktanya, cari judul skripsi memang bisa jadi fase paling galau di akhir kuliah. Bukan karena kita malas berpikir tapi kadang ide itu seperti sinyal Wi-Fi: lemah di saat genting.
Tenang, kamu tidak sendiri. Banyak yang mengalami hal yang sama. Tapi kabar baiknya, ada cara biar kamu bisa pelan-pelan menemukan judul yang oke. Nggak harus langsung bagus, yang penting relevan, realistis, dan bisa dikerjakan. Yuk, simak beberapa tips berikut ini!

1. Mulai dari Topik yang Kamu Suka

Skripsi itu ibarat marathon, bukan sprint. Jadi, pilih topik yang kamu bener-bener suka atau bikin kamu penasaran. Menurut Creswell (2014), peneliti cenderung lebih konsisten dan semangat kalau meneliti hal yang mereka minati. Misalnya kamu suka hal-hal soal media sosial, coba gali: pengaruhnya ke gaya hidup? ke dunia kerja? ke pendidikan?

2. Intip Isu yang Lagi Ramai

Jangan lupa update sama dunia luar. Isu-isu terbaru bisa jadi ladang ide skripsi yang relevan dan “segar”. Coba cek portal berita, forum diskusi, jurnal, bahkan media sosial. Terkadang inspirasi bisa datang dari tweet orang lho!

3. Baca-Baca Skripsi atau Jurnal terdahulu

Ini bukan nyontek ya, tapi riset. Coba buka repositori kampus atau jurnal-jurnal nasional. Lihat deh, dari topik-topik yang udah pernah dibahas, kira-kira ada bagian yang belum dijelajahi lebih lanjut nggak? “good research often comes from good reading”. Jadi, sebelum nulis, banyakin baca dulu.

4. Pikirkan: Tujuan Penelitian Kamu Apa?

Kamu mau meneliti hubungan antar variabel? Studi kasus? Atau eksplorasi fenomena tertentu?
Kalau udah tau arahnya mau ke mana, bikin judul jadi lebih gampang. Ingat, judul yang baik itu biasanya lahir dari pertanyaan penelitian yang jelas.

5. Jangan Sungkan Diskusi

Kadang kita terlalu sibuk mikir sendiri sampai lupa: ngobrol itu bisa mencerahkan. Coba deh diskusi sama dosen, teman, atau alumni. Siapa tahu dari obrolan ringan muncul insight baru.
Swetnam (2004) bahkan bilang, masukan dari orang lain bisa bikin ide kita makin tajam dan realistis.

6. Pastikan Datanya Bisa Dicari

Penting nih! Judulnya boleh menarik, tapi kalau datanya susah didapat, bisa repot juga.
Sebelum fix-in judul, pikirkan: kamu mau ambil data dari mana? Apakah survei? Wawancara? Atau observasi? Kalau terlalu ribet di lapangan, skripsi bisa mandek di tengah jalan.

7. Bikin Judul yang Spesifik, Bukan Asal Keren

Terkadang, kita pengen judul yang terdengar ‘wow’. Tapi hati-hati, judul yang terlalu umum malah bikin bingung. Spesifik itu memudahkan kamu dan juga dosen yang baca.

Jadi, Mulai dari Mana?
Mulailah dari hal yang kamu suka, yang dekat dengan kamu, dan yang bisa kamu selesaikan. Jangan terlalu perfeksionis di awal. Judul skripsi bukan harus yang paling “wah”, tapi yang bisa dikerjakan sampai tuntas ya Sobat UVERS 😉

Baca Juga : Burnout Akademik? Kenali Tanda-tandanya Biar Gak Makin Stress!

Referensi
• American Psychological Associati on. (2010). Publication Manual of the American Psychological Association (Edisi ke-6). Washington, DC: Author.
• Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (Edisi ke-4). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
• Leedy, P. D., & Ormrod, J. E. (2010). Practical Research: Planning and Design (Edisi ke-9). Boston, MA: Pearson.
• Swetnam, D. (2004). Writing Your Dissertation (Edisi ke-3). Oxford, UK: How To Books.

Scroll to Top