“Cuma Candaan?” — Saat Kampus Perlu Lebih Mawas terhadap Pelecehan Seksual

“Ah, santai aja… cuma bercanda kok.”

Kalimat itu mungkin terdengar ringan. Bahkan sering diucapkan sambil tertawa di lorong kampus, kantin, atau grup chat. Tapi bagi sebagian orang, “candaan” itu justru meninggalkan rasa tidak nyaman, malu, bahkan takut.

Kampus seharusnya menjadi ruang aman—tempat bertumbuh, bertukar pikiran, dan mengejar mimpi. Namun, realitanya tidak selalu seideal itu. Tanpa disadari, praktik pelecehan seksual bisa terjadi dalam bentuk yang sangat dekat dengan keseharian mahasiswa.

Ketika Hal Kecil Ternyata Berdampak Besar

Tidak semua pelecehan seksual berbentuk tindakan fisik ya Sobat UVERS. Justru, yang paling sering terjadi adalah bentuk verbal—seperti komentar tentang tubuh, candaan bernuansa seksual, hingga siulan atau catcalling. Sekilas mungkin terlihat “sepele”. Namun, tindakan tersebut termasuk dalam kategori pelecehan seksual verbal karena bersifat tidak diinginkan dan membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Bayangkan berjalan menuju kelas, lalu mendengar komentar tentang tubuhmu dari orang yang bahkan tidak kamu kenal. Atau menerima pesan bernada seksual yang membuatmu bingung harus merespons bagaimana. Situasi seperti ini bukan hanya mengganggu, tapi juga bisa merusak rasa aman seseorang di lingkungan kampus.

“Niatnya Bercanda”, Tapi Dampaknya Nyata

Salah satu tantangan terbesar dalam isu ini adalah persepsi. Banyak pelaku merasa tidak bersalah karena menganggap tindakannya sebagai lelucon atau pujian. Padahal, catcalling dan komentar seksual tanpa persetujuan bukanlah bentuk apresiasi. Sebaliknya, itu adalah bentuk pelanggaran batas personal yang dapat menimbulkan dampak psikologis—mulai dari rasa cemas, kehilangan percaya diri hingga trauma. Yang sering luput dipahami adalah “yang menentukan itu bukan niat pelaku, tapi dampak yang disarankan korban”.

Kenapa Banyak yang Diam? Tidak sedikit korban memilih untuk diam. Bukan karena tidak ingin melawan, tetapi karena berbagai pertimbangan:

  • Takut tidak dipercaya,
  • Khawatir disalahkan,
  • atau Merasa “ini bukan masalah besar”.

Ditambah lagi, budaya yang masih menganggap pelecehan verbal sebagai hal biasa membuat banyak kasus tidak pernah benar-benar muncul ke permukaan.

Padahal, secara hukum, pelecehan seksual—termasuk dalam bentuk verbal tertentu—dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang melanggar hukum, meskipun pembuktiannya masih menjadi tantangan.

Peran Kita: Bukan Sekadar Penonton

Menciptakan kampus yang aman bukan hanya tugas institusi, tetapi tanggung jawab bersama. Hal sederhana bisa jadi langkah awal yang besar:

  • Berpikir sebelum berbicara — apakah ini akan membuat orang lain nyaman?
  • Berani menegur jika melihat perilaku yang tidak pantas
  • Mendukung korban, bukan menghakimi
  • Tidak ikut menormalisasi candaan yang merendahkan

Kampus bukan hanya tempat belajar teori, tapi juga tempat belajar menghargai sesama.

Mulai dari Mawas Diri

Perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Kadang, cukup dari kesadaran kecil: menjaga ucapan, menghormati batasan, dan memahami bahwa setiap orang berhak merasa aman. Karena pada akhirnya, kampus yang baik bukan hanya diukur dari prestasinya—tetapi dari seberapa aman dan nyaman setiap orang di dalamnya.

 

 

Referensi

Hukumonline. (n.d.). Bisakah pelecehan seksual verbal dipidana?
Universitas Negeri Surabaya. (n.d.). Mengenal lebih dekat macam-macam pelecehan seksual dan dampaknya
UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. (n.d.). Catcalling: Pelecehan seksual verbal di ruang publik

Universitas Universal (UVERS) kembali memperkuat jejaring internasionalnya melalui penandatanganan perpanjangan nota kesepahaman (MoU) dengan International Cultural Communication Center Malaysia (ICCCM) pada Senin (06/04). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting ini menjadi langkah lanjutan dari kerja sama yang telah terjalin sebelumnya, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di masa mendatang.

Pertemuan ini dihadiri langsung oleh pimpinan dari kedua belah pihak. Dari UVERS, hadir Rektor Dr. techn. Aswandy, M.T., Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan Yodi, S.Kom., M.S.I., serta Yuki Frendy, B.A., M.A. dari Kantor Urusan Internasional dan Kerja Sama. Sementara itu, pihak ICCCM diwakili oleh Managing Director Ms. Loo Hui Ann, Administrator Executive Ms. Zhenhui, dan Indonesia Regional Manager Ms. Cyntia Wu. Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh semangat kolaborasi.

Acara dimulai dengan sesi pembukaan, dilanjutkan dengan penandatanganan MoU dan sesi foto bersama sebagai simbol perpanjangan kerja sama. Tidak berhenti di situ, kedua pihak juga memanfaatkan momentum ini untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai peluang kerja sama yang bisa dikembangkan, termasuk melalui sesi tanya jawab yang berjalan interaktif.

Melalui perpanjangan MoU ini, UVERS dan ICCCM sepakat untuk terus mendorong program-program Kerjasama yang dapat melibatkan mahasiswa maupun sivitas akademika. Harapannya, kerja sama ini tidak hanya memperluas wawasan global, tetapi juga memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam bidang publikasi khususnya jurnal ilmiah.

Sebagai langkah lanjutan, UVERS akan melakukan koordinasi internal terkait rencana keterlibatan ICCCM dalam konferensi internasional yang dijadwalkan pada Oktober 2026. Di sisi lain, ICCCM juga akan menindaklanjuti peluang partisipasi mahasiswa UVERS dalam platform International Transnasional Education Association (ITEA). Kedua langkah ini menjadi sinyal bahwa kerja sama yang terjalin akan terus berkembang dan diupayakan memberikan manfaat yang konkret. (DAY)

Pernah nggak sih Sobat UVERS ada di titik bingung banget pas mau pilih jurusan kuliah? Di satu sisi, ada passion yang disukain dan bikin semangat. Tapi di sisi lain, ada juga pikiran soal “ini nanti kerjaan gimana yah?” Nah, dilema kayak gini tuh wajar banget, apalagi sekarang pilihan karier makin banyak dan terus berubah.

Ngomongin passion, sederhananya itu adalah hal yang bikin kamu rela belajar tanpa disuruh. Biasanya, kalau kita suka sama sesuatu, kita jadi lebih enjoy ngejalaninnya. Bahkan, beberapa penelitian ada yang bilang kalau orang yang kuliah sesuai minatnya cenderung lebih puas dan performanya juga lebih oke. Jadi, passion itu bukan cuma soal “suka”, tapi juga bisa bikin kamu lebih tahan banting selama kuliah.

Tapi… kalau cuma ngikutin passion tanpa mikirin masa depan, bisa jadi “risky” juga. Dunia kerja sekarang berubah cepat banget, apalagi dengan perkembangan teknologi. Menurut World Economic Forum (2023), skill kayak teknologi, analisis data, dan problem solving itu lagi dibutuhin banget di dunia pekerjaan. Artinya, penting juga buat mikirin: “Jurusan ini nanti kepake nggak ya di dunia kerja?”

Jadi gimana dong? Harus pilih yang mana?

Jawabannya, nggak harus milih salah satu. Sobat UVERS bisa banget cari titik tengah. Misalnya, suka desain atau hal-hal kreatif, kamu bisa ambil jurusan yang tetap relate sama industri, kayak desain digital atau sistem informasi. Jadi kamu tetap doing what you love, tapi juga punya peluang kerja yang jelas.

Selain jurusan, satu hal yang sering dilupain adalah kampusnya. Lingkungan kampus itu ngaruh banget ke perkembangan kamu. Kampus yang punya program magang, kerja sama industri, atau banyak praktik langsung biasanya bisa bantu kamu lebih siap masuk dunia kerja dan nggak cuma jago teori doang.

Sekarang juga udah banyak kampus yang ngerti kebutuhan ini. Mereka mulai gabungin pembelajaran yang sesuai industri tapi tetap kasih ruang buat mahasiswa eksplor minatnya. Jadi kamu nggak cuma “belajar”, tapi juga “nyiapin masa depan”.

Intinya, pilih jurusan itu bukan soal ikut-ikutan atau sekadar “yang penting kuliah”. Ini tentang langkah awal buat masa depan kamu. Passion itu penting biar kamu enjoy, tapi prospek juga penting biar kamu punya arah.

Nah, di titik inilah peran kampus jadi penting. Bukan cuma tempat belajar, tapi juga tempat kamu membentuk diri, baik dari sisi skill maupun karakter. Lingkungan yang mendukung, fleksibel, dan relevan dengan dunia kerja bisa jadi pembeda besar dalam perjalanan kamu.

Salah satu contoh kampus yang mengusung pendekatan ini adalah UVERS. Dengan fokus pada pembentukan professional berkarakter, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan akademis, tetapi juga nilai-nilai integritas dan kesiapan menghadapi dunia kerja.

Sistem perkuliahan yang fleksibel memungkinkan mahasiswa UVERS untuk kuliah sambil bekerja. Artinya, kamu nggak harus nunggu lulus dulu untuk punya pengalaman justru bisa mulai membangun karier sejak masih kuliah. Ini jadi solusi buat kamu yang ingin tetap berkembang secara akademis sekaligus punya pengalaman nyata di dunia profesional.

Jadi, kalau kamu sedang di fase menentukan pilihan, ingat: passion itu penting, tapi lingkungan tempat kamu belajar juga nggak kalah menentukan. Pilih tempat yang bisa bantu kamu berkembang secara utuh bukan cuma pintar, tapi juga siap menghadapi dunia nyata.

Referensi :
World Economic Forum. (2023). Future of Jobs Report 2023.
https://www.weforum.org/stories/2023/05/future-of-jobs-2023-skills/

Ilustrasi : unsplash.com

Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Saka bagi umat Hindu yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan perayaan tahun baru pada umumnya. Jika kebanyakan perayaan identik dengan kemeriahan, Nyepi justru dirayakan dalam suasana hening dan penuh refleksi diri. Kata “Nyepi” sendiri berasal dari kata sepi yang berarti sunyi, di mana seluruh aktivitas masyarakat dihentikan selama 24 jam penuh, dimulai dari matahari terbit hingga keesokan harinya.

Salah satu fakta unik dari Nyepi adalah penghentian total aktivitas publik, termasuk operasional bandara, transportasi, hingga kegiatan perkantoran. Kondisi ini menjadikan Bali yang biasanya ramai berubah menjadi sangat sunyi. Selain itu, masyarakat juga menjalankan Catur Brata Penyepian, yaitu tidak menyalakan api atau listrik, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan. Kondisi tersebut tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga berdampak nyata terhadap lingkungan.

Dari sisi lingkungan, Nyepi memberikan kontribusi signifikan dalam penghematan energi dan pengurangan emisi. Penggunaan listrik dapat berkurang hingga sekitar 60%, sementara konsumsi bahan bakar juga menurun drastis karena tidak adanya mobilitas masyarakat. Dampak lainnya adalah penurunan emisi karbon hingga puluhan ribu ton dalam satu hari, sehingga Nyepi kerap disebut sebagai momentum refleksi sekaligus bentuk nyata kepedulian terhadap kelestarian alam.

Keunikan lain dari Nyepi adalah keindahan langit malam yang jarang ditemukan di hari biasa. Tanpa adanya polusi cahaya dari lampu dan aktivitas manusia, langit Bali tampak lebih cerah dengan hamparan bintang yang jelas terlihat. Selain itu, rangkaian perayaan Nyepi juga diawali dengan tradisi pawai ogoh-ogoh, yaitu patung raksasa yang melambangkan sifat negatif manusia dan kemudian dibakar sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki hari hening.

Dengan berbagai keunikan tersebut, Nyepi tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga fenomena budaya yang menginspirasi dunia, seperti lahirnya konsep World Silent Day. Nilai-nilai introspeksi, keseimbangan hidup, serta harmoni antara manusia dan alam menjadikan Nyepi sebagai salah satu kearifan lokal Indonesia yang memiliki relevansi global. Oleh karena itu, perayaan ini tidak hanya penting bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi pembelajaran universal tentang pentingnya jeda dalam kehidupan modern.

 

Referensi :

https://www.quipper.com/id/blog/tips-trick/your-life/7-fakta-unik-hari-raya-nyepi/amp/

https://piaagungbali.com/index.php/2024/03/08/fakta-unik-nyepi/#:~:text=Fakta%20unik%20Nyepi%20berikut%20mungkin,menjadi%20sangat%20sepi%20dan%20sunyi.

Scroll to Top