Kenny, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin angkatan 2023, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Menyanyi Mandarin “Chinese Paradise 13”. Kompetisi ini yang diselenggarakan sebagai acara tahunan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya.
Kompetisi berlangsung melalui beberapa tahap, mulai dari pendaftaran, pengumpulan karya hingga 19 Oktober, hingga proses penilaian oleh juri pada 22–29 Oktober 2025. Hasil akhir diumumkan pada 3 November, lalu ditutup dengan Awarding Night pada 8 November 2025. Para juri langsung memilih tiga peserta terbaik dalam kategori menyanyi solo berdasarkan video yang dikirimkan.
Kenny mengikuti kategori Lomba Menyanyi Mandarin Solo, kategori yang sebelumnya juga pernah ia pernah ikuti. “Saya ingin menambah pengalaman lomba. Dulu pernah ikut kategori yang sama, tapi belum berhasil mendapatkan juara,” jelasnya. Tahun ini, Kenny mempersiapkan penampilan yang lebih matang dan sesuai dengan tema: “Nada yang Menyampaikan Makna, Lirik yang Menyentuh Jiwa” (声载真意,歌通人心).
Untuk lagu, Kenny memilih “小幸运 (A Little Happiness)” yang dipopulerkan oleh Hebe Tian, lagu ini bertema remaja yang bercerita tentang penyesalan dan momen kecil yang sering terlewat karena kesibukan. Lagu ini ia pilih karena paling sesuai dengan tema dan memberinya ruang untuk menampilkan interpretasi yang lebih emosional. Ia juga menjelaskan proses ia mengikuti lomba ini. Dimulai dari mendaftar, memilih lagu yang tepat, merekam video terbaik, hingga mengirimkannya ke panitia. Berbekal pengalaman sebelumnya yang pernah meraih Juara 3 dalam lomba serupa, Kenny tampil dengan lebih percaya diri.
Kenny memberi pesan sederhana namun kuat bagi mahasiswa lainnya “Jangan takut untuk mencoba. Coba saja dulu.” Prestasi ini menjadi bukti bahwa keberanian untuk kembali mencoba dapat membuka jalan menuju pencapaian yang lebih besar.
Melalui pencapaian ini, UVERS berharap semakin banyak mahasiswa yang berani mengeksplorasi minat dan bakat mereka, baik di bidang akademik, seni, maupun kompetisi lain di tingkat nasional. Kampus mendorong mahasiswa untuk terus mencoba hal baru, memanfaatkan setiap kesempatan, dan tidak takut melangkah keluar dari zona nyaman. Prestasi Kenny diharapkan menjadi inspirasi bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, bisa membuka peluang besar di masa depan. (DAY)
Kompetisi ‘Chinese Paradise 13’ yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Cina Universitas Brawijaya
Sobat UVERS pernah nggak sih kalian motret dari angle yang sama, lalu saat diliat di layar kok rasanya beda banget sama waktu liat di cermin atau depan kaca? Ada yang nyalahin kamera, ada juga yang langsung nyalahin muka. Tenang bukan cuma kamu. Ada campuran ilmu otak, kebiasaan visual, dan trik optik kamera yang bikin versi “kamu” di cermin, di foto, dan yang dilihat orang lain jadi terasa berbeda. Yuk kita cari tau kenapasih fenomena ini bisa terjadi.
Saat kita melihat diri sendiri lewat mata atau cermin, otak selalu memberi “sentuhan final” untuk membuat tampilan kita terlihat sedikit lebih familiar dan nyaman. Otak manusia cenderung memproses wajah sendiri dengan pola pengenalan otomatis yang membuat detail kecil tersamarkan. Itulah alasan kenapa jerawat kecil, rambut kurang rapi, atau bentuk hidung tertentu sering tidak terlalu kita perhatikan saat bercermin. Dengan kata lain, otak itu kayak editor yang diam-diam menghaluskan tampilan kita.
Masalah muncul ketika kamera menangkap angle yang sama tapi dengan “kejujuran” yang menyakitkan. Kamera bekerja secara optik, bukan emosional. Setiap lensa memiliki karakter berbeda, ada yang membuat wajah tampak lebih lebar, ada yang membuat hidung tampak lebih menonjol.
Situs teknologi fotografi Digital Photography School menjelaskan bahwa lensa dengan focal length pendek (seperti kamera smartphone) cenderung menghasilkan distorsi perspektif yang membuat objek dekat terlihat lebih besar. Makanya wajah bisa terlihat beda banget.
Ada alasan psikologis lain yang sering terlewat: otak lebih nyaman dengan tampilan yang sering ia lihat. Kita paling sering melihat diri sendiri melalui cermin, bukan kamera. Dan cermin memberikan versi mirror image, alias terbalik.
Dikutip dari Situs Kumparan, Manusia punya kecenderungan “mere exposure effect” semakin sering melihat sesuatu, semakin kita merasa itu lebih baik dan lebih menarik. Itu artinya, versi cermin dari wajah kitalah yang terasa paling “normal”. Begitu kamera memberikan versi non-mirror, otak langsung bilang, “Eh, kok beda?” Padahal itu justru versi yang orang lain lihat setiap hari.
Jadi… Yang mana yang benar?
Jawabannya: dua-duanya sama-sama benar. Kamera bekerja sesuai hukum optik, sementara otak bekerja sesuai kebutuhan psikologis manusia untuk merasa nyaman dengan dirinya.
Kalau kamu ingin hasil foto yang lebih mendekati apa yang kamu lihat di cermin, sobat UVERS bisa coba:
- Gunakan lensa kamera belakang (lebih minim distorsi)
- Tambah jarak antara kamera dan wajah
- Gunakan cahaya yang merata
- Jangan terlalu dekat dengan sudut wide-angle
Perbedaan antara mata dan kamera bukan tanda bahwa kamu “nggak fotogenik”. Ini hanya cara otak dan teknologi memproses dunia. Jadi kalau hasil foto kadang bikin kamu heran, ingat otakmu sedang membandingkan dua realitas yang berbeda.
Dan mungkin, sobat UVERS… kamu memang terlihat lebih baik di dunia nyata daripada di kamera.
Sumber :
Kompas.com. (2023). Cermin atau Kamera Belakang, Mana Gambaran Wajah yang Sebenarnya?
https://www.kompas.com/tren/read/2023/11/06/200000665/cermin-atau-kamera-belakang-mana-gambaran-wajah-yang-sebenarnya-?page=all
Kumparan.com. (2023). Cermin vs Kamera: Mana yang Lebih Akurat Merepresentasikan Penampilan?
https://kumparan.com/lampu-edison/cermin-vs-kamera-mana-yang-lebih-akurat-merepresentasikan-penampilan-1rqNu8g5qeg