“Bagaimana jika bumi tiba-tiba berguncang saat kita sedang mengikuti perkuliahan, bekerja, atau beristirahat di rumah? Dalam hitungan detik, keputusan yang kita ambil dapat menentukan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.”
Peristiwa gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,8 yang mengguncang wilayah lepas pantai Mindanao, Filipina, pada Juni 2026 menjadi perhatian dunia. Gempa tersebut tidak hanya menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan aktivitas masyarakat, tetapi juga memicu peringatan dini tsunami di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Indonesia memiliki karakteristik geologi yang serupa dengan Filipina. Keduanya berada di kawasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, yaitu wilayah yang menjadi pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif sehingga memiliki tingkat aktivitas seismik yang tinggi. Posisi geografis tersebut menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap gempa bumi dan tsunami. Oleh karena itu, kejadian tersebut menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai mitigasi gempa dan kesiapsiagaan tsunami.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi secara pasti, baik waktu maupun kekuatannya. Yang dapat dilakukan adalah mempersiapkan diri melalui upaya mitigasi yang terencana. Bagi sivitas akademika seperti UVERS, pemahaman mengenai mitigasi bencana juga menjadi bagian dari pembentukan budaya kampus yang tangguh. Kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi berbagai risiko kebencanaan.
Mitigasi Gempa Dimulai Sebelum Bencana Terjadi
- Mengenali Risiko di Lingkungan Sekitar
Langkah pertama adalah mengetahui apakah tempat tinggal, kampus, atau kantor berada di kawasan rawan gempa maupun tsunami. Selain itu, masyarakat perlu memahami; jalur evakuasi, lokasi titik kumpul, tempat evakuasi sementara dan lokasi bangunan yang relatif aman. Pengetahuan sederhana tersebut dapat menghemat waktu ketika kondisi darurat terjadi.
- Memastikan Bangunan Lebih Aman
Bangunan yang memenuhi standar konstruksi tahan gempa memiliki peluang lebih besar untuk tetap berdiri ketika terjadi guncangan. Kaca besar, lampu gantung, dan benda yang mudah jatuh juga perlu diperiksa secara berkala.
- Menyiapkan Tas Siaga Bencana
Setiap keluarga maupun individu disarankan memiliki tas siaga yang mudah dijangkau. Tas siaga akan sangat membantu apabila proses evakuasi harus dilakukan secara cepat.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Gempa Terjadi?
Ketika gempa berlangsung, hal terpenting adalah tetap tenang dan menghindari kepanikan. Jika berada di dalam bangunan, lakukan prinsip Drop, Cover, and Hold On:
- Drop: merunduk untuk menjaga keseimbangan.
- Cover: berlindung di bawah meja atau benda yang kokoh.
- Hold On: berpegangan hingga guncangan berhenti.
Langkah Setelah Gempa Berakhir
Banyak orang mengira keadaan telah aman setelah guncangan utama berhenti. Padahal, gempa susulan (aftershock) dapat terjadi beberapa kali. Karena itu, masyarakat perlu:
- Memeriksa kondisi diri sendiri dan keluarga;
- Memberikan pertolongan pertama apabila diperlukan;
- Menghindari bangunan yang mengalami kerusakan;
- Mematikan aliran listrik dan gas apabila memungkinkan;
- Mengikuti informasi resmi dari BMKG maupun BNPB.
Peran Kampus dalam Membangun Budaya Mitigasi Bencana
Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Selain menghasilkan penelitian mengenai kebencanaan, kampus juga dapat menjadi pusat edukasi mitigasi melalui berbagai kegiatan.
Sobat UVERS sebagai warga kampus dan generasi muda, memiliki potensi besar menjadi agen perubahan dalam menyebarluaskan informasi mengenai kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat.
Referensi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (n.d.). Antisipasi gempa bumi. Diakses dari https://www.bmkg.go.id/gempabumi/mitigasi/antisipasi-gempabumi
Reuters. (2026, June 8). Powerful Philippine quake leaves at least 32 feared dead, tsunami warnings lifted after Mindanao earthquake. Reuters. Diakses dari https://www.reuters.com/business/environment/earthquake-magnitude-73-strikes-mindanao-philippines-gfz-says-2026-06-07/





