Child Grooming: Ancaman Tersembunyi yang Perlu Disadari Bersama

Di era digital yang semakin maju, ancaman terhadap keamanan anak tidak hanya terlihat dalam bentuk fisik, tetapi juga melalui modus yang halus dan tersembunyi: child grooming. Bagi banyak mahasiswa—sebagai generasi yang hidup berdampingan dengan teknologi—fenomena ini kerap tampak abstrak hingga tersadar setelah kasus-kasus tertentu viral di media sosial. Misalnya, buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans yang menguak pengalaman trauma akibat grooming membuka mata publik bahwa ini bukan sekadar istilah teoretis, melainkan ancaman nyata yang menggerogoti psikologis korban secara perlahan (Hipwee, 2026).

Apa Itu Child Grooming?

Child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang dilakukan secara bertahap oleh seseorang—sering kali orang dewasa dengan otoritas atau figur yang tampak “aman”—untuk membangun hubungan, kepercayaan, serta keterikatan emosional dengan anak atau remaja dengan tujuan akhir eksploitasi atau kekerasan seksual (Republika, 27 Januari 2026). Pelaku tidak selalu menggunakan kekerasan fisik di awal, tetapi mengeksploitasi kebutuhan emosional korban melalui perhatian berlebihan, hadiah, dan komunikasi intens, sehingga menurunkan kewaspadaan korban dan lingkungan di sekitarnya (Hipwee, 2026).

Mengapa Fenomena Ini Penting Dipahami Mahasiswa?

Sebagai calon profesional, pendidik, dan anggota masyarakat berpengetahuan, mahasiswa punya tanggung jawab intelektual dan sosial untuk memahami persoalan kompleks ini bukan hanya secara teoretis tetapi juga dalam praktik kehidupan sehari-hari. Ketidaktahuan terhadap child grooming sering kali menjadi celah yang dimanfaatkan pelaku, terutama di lingkungan pendidikan—baik secara daring maupun tatap muka (Republika, 2026).

Tanda-tanda yang Perlu Diwaspadai

Beberapa alarm bahaya dalam proses child grooming dapat terlihat dari pola hubungan yang tidak sehat dan manipulatif, antara lain (Hipwee, 2026):

  1. Kedekatan emosional yang terbangun terlalu cepat dan intens, sehingga korban merasa “istimewa.”
  2. Permintaan kerahasiaan hubungan dari pelaku, sehingga korban takut menceritakan apa yang terjadi.
  3. Pembingkaian perhatian dan hadiah sebagai bentuk kasih sayang, padahal berfungsi sebagai kontrol.
  4. Pengaburan batasan fisik dan emosional, membuat korban tidak menyadari bahwa hubungan tersebut tidak sehat.
  5. Perubahan perilaku korban—seperti menarik diri dari teman dan keluarga atau mood swing yang ekstrem—yang sering disalahpahami sebagai kondisi normal remaja.

Dampak Psikologis dan Sosial yang Serius

Dampak child grooming bersifat jangka panjang dan tidak mudah terlihat secara sekilas. Korban sering mengalami luka psikologis mendalam termasuk kecemasan berlebihan, depresi, gangguan stres pasca trauma (PTSD), serta kesulitan membangun relasi interpersonal yang sehat di kemudian hari (Republika, 2026; Hipwee, 2026). Trauma yang tertinggal juga dapat muncul seumur hidup, memengaruhi identitas diri, kepercayaan terhadap orang lain, dan kemampuan berfungsi sosial (Hipwee, 2026).

Peran Mahasiswa dalam Pencegahan dan Edukasi

Mahasiswa sebagai sumber daya intelektual dan pemimpin masa depan memiliki peran aktif dalam upaya pencegahan dan edukasi terhadap child grooming:

  • Mengembangkan penelitian dan publikasi terkait pemahaman fenomena ini di ranah akademik dan masyarakat luas.
  • Menyosialisasikan informasi yang akurat melalui forum diskusi, seminar, dan media kampus untuk meningkatkan literasi tentang tanda-tanda dan cara mengantisipasi grooming.
  • Melibatkan diri dalam komunitas untuk memperkuat sistem perlindungan anak di lingkungan pendidikan, seperti sekolah dan tempat penitipan anak.
  • Mendorong dialog terbuka mengenai batasan tubuh, hubungan sehat, dan keselamatan digital—topik yang sering tabu namun sangat krusial dipahami sejak dini.

Kesimpulan

Child grooming merupakan ancaman tersembunyi yang memerlukan perhatian serius dari seluruh elemen bangsa, termasuk mahasiswa. Pemahaman mendalam bukan hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menempatkan generasi muda sebagai garda terdepan dalam membangun lingkungan yang aman, suportif, dan bebas dari eksploitasi. Melalui pendidikan, dialog, dan tindakan kolektif, mahasiswa dapat berkontribusi signifikan dalam mengurangi celah risiko yang selama ini sering tidak disadari masyarakat (Republika, 2026; Hipwee, 2026).

Referensi

Hipwee. (2026, 16 Januari). 7 tanda bahaya child grooming yang harus diwaspadai, berkaca dari buku Broken Strings. https://www.hipwee.com/hubungan/waspada-tanda-bahaya-child-grooming/

Republika. (2026, 27 Januari). Pakar psikologi UMJ: child grooming membawa dampak serius pada anak. Republika.co.id. https://news.republika.co.id/t9i64e472/pakar-psikologi-umj-child-grooming-membawa-dampak-serius-pada-anak

Sumber Foto
Republika.com

Scroll to Top