Berita

BERHASIL BORONG PRESTASI DI AJANG CHINESE PARADISE, MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN BAHASA MANDARIN UVERS MENAKLUKKAN PERLOMBAAN SHUFA

Selasa, 14 Desember 2021
berhasil-borong-prestasi-di-ajang-chinese-paradise-mahasiswa-prodi-pendidikan-bahasa-mandarin-uvers-menaklukkan-perlombaan-shufa

Batam, 29 November 2021 – Chinese Paradise merupakan ajang kompetisi tahunan dengan skala nasional yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya. Tujuan dari event ini adalah untuk memperkenalkan kebudayaan Cina pada masyarakat luas. Tahun ini merupakan Chinese Paradise 9 dengan mengusung tema “Perkembangan Budaya Cina”. Kompetisi dilaksanakan sejak bulan Oktober secara online, lalu pengumuman pemenang dilaksanakan pada Jumat (19/11) melalui media sosial instagram. Ada 5 kategori perlombaan yaitu  Menyanyi solo, Membaca puisi, Chinese Makeup Beauty, Melukis dan Shufa. Pada kategori lomba Shufa, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin UVERS berhasil mendapatkan juara 2 dan 3.

Juara 2 diraih oleh Iren Kwok Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin UVERS Angkatan 2021 dan Juara 3 diraih oleh Metta Seluyren Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin UVERS Angkatan 2018. Iren dan Metta menceritakan pengalaman mereka dalam mengikuti kompetisi tersebut. Iren mengungkapkan bahwa Ia memang memiliki hobi dalam Shufa (menulis karakter hanzi). Sedangkan Metta juga memiliki hobi dibidang seni, namun Ia baru saja memulai untuk mempelajari Shufa. Alasan keduanya ingin ikut serta dalam perlombaan karena sama-sama ingin mendapatkan pengalaman dan mengajarkan mereka untuk berusaha dengan giat.

Sedangkan proses yang mereka lalui untuk mempersiapkan diri pada kompetisi pastinya memiliki cerita unik masing-masing. Berbeda dengan Iren yang telah memiliki hobi dan kemampuan pada bidang Shufa, Metta yang baru saja terjun untuk mempelajari shufa membutuhkan effort yang lebih. Metta bercerita bahwa, “Setiap kali latihan menulis saya bisa menghabiskan lebih dari 5-10 lembar kertas kaligrafi, dan saya lakukan itu selama beberapa hari. Tibalah proses pengambilan video lomba kaligrafi. Dalam pembuatan video, saya meminta bantuan kepada sahabat saya untuk merekam proses menulis kaligrafi, itupun direkam sampai berulang-ulang sekitar 3 kali untuk mendapatkan hasil yang maksimal.” (Sh)