Dari Meja Rektor
Home
Pages
Dari Meja Rektor

Dari Meja Rektor


MEMILIH UNIVERSITAS

 

Memilih universitas memang bisa menjadi sukar. Kalau anda sudah tahu apa yang anda kehendaki, memilih universitas tidak sukar. Susahnya, kebanyakan calon mahasiswa tidak tahu persis apa yang dikehendaki, kebanyakan ikut-ikutan saja, dan di samping itu juga tidak tahu hal-hal apa saja yang perlu dipertimbangkan.

Banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seperti misalnya minat, kemampuan, dan bakat. Tetapi ini sering tidak jelas, apa sebenarnya minat, kemampuan dan bakat yang dikira dimiliki itu. Anak lulusan sekolah menengah masih mudah berubah minat. Pertimbangan lain meliputi kesempatan kerja setelah lulus, dan yang tidak kalah pentingnya pertimbangan tentang biaya pendidikan. Ini adalah hal-hal yang lazimnya sudah dipertimbangkan oleh calon mahasiswa. Ada satu hal yang sering tidak dipertimbangkan sama sekali, bahkan tidak diketahui bahwa hal ini perlu dipikirkan yakni masa selama belajar.

Bayangkan, kalau Anda berusia 19 tahun, maka Anda akan menghabiskan masa “bebas” selama 4 tahun di kampus, sampai usia 23 tahun. Sebagai mahasiswa, Anda dianggap bukan anak-anak lagi, tinggal tidak bersama orang tua, bebas bergaul, berkegiatan, berpacaran, bahkan berpolitik. Tetapi di sisi lain masa-masa itu dianggap sebagai masa pembentukan, artinya di dalam masa itulah Anda dibentuk. Yang dibentuk bukan hanya kemampuan akademis dan profesional saja, tetapi juga diri Anda. Kepribadian Anda dibentuk dalam masa itu.

Kampus menawarkan dua hal. Pertama, melalui pendidikan/pengajaran kurikuler, Anda dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan akademis dan profesional. Di samping itu, ada kegiatan ekstra-kurikuler yang membekali anda dengan pengetahuan dan ketrampilan lainnya, yang tidak dicakup oleh pendidikan/pengajaran kurikuler. Kedua, dunia kehidupan kampus menawarkan pengalaman hidup yang bisa menjadi sangat berpengaruh.

Dunia kehidupan kampus berbeda dari dunia kehidupan sekolah menengah. Kalau anak didik di sekolah menengah disebut “siswa”, anak didik di universitas disebut “mahasiswa”, bukan sembarang siswa, tetapi siswa yang “maha”. Beban yang dipikul karena menyandang predikat “maha” ini sungguh berat. Mahasiswa tidak bisa lagi main-main seperti kebanyakan siswa, mahasiswa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mahasiswa menghadapi sendiri tantangan dunia kehidupan, yang sering sungguh keras. Mahasiswa tidak dilindungi lagi oleh orang tua mereka.

Masa pada usia 19-23 tahun itu adalah masa yang genting, dan oleh karena itu, dalam menjalani kehidupan selama 4 tahun itu, mahasiswa harus sangat berhati-hati. Di satu sisi, mahasiswa dituntut kedewasaan, tetapi di sisi lain sisa-sisa kekanak-kanakannya masih ada.

Kami di Universitas Universal menyadari betul hal ini. Kami berupaya keras menciptakan suasana kehidupan kampus yang memiliki dua hal sebagai berikut. Pertama, kehidupan kampus akan diupayakan agar bisa memberi pengalaman hidup yang “kaya” (bukan kaya dalam pengertian harta), yang akan memberi pengalaman yang menarik sekaligus menyenangkan. Kedua, kehidupan kampus akan diupayakan agar tidak terlalu mengkhawatirkan walaupun tetap saja mahasiswa harus mandiri, harus dapat melindungi diri sendiri, dari tantangan kehidupan. Menghadapi sendiri tantangan kehidupan adalah bagian dari proses pendewasaan. Kami, pengelola kampus Universitas Universal, berupaya keras memberikan kepastian akan hal ini.

Namun demikian, kampus ini adalah milik kita bersama, para pengelola dan para mahasiswa. Kita semua wajib menjaga agar kampus bisa menjadi wadah kehidupan yang menarik, menyenangkan, tidak membahayakan. Kita harus memberikan kepastian kepada para orang tua, agar mereka tidak khawatir melepaskan putra putri mereka hidup selama 4 tahun dalam kampus kita itu. Saya harap Anda setuju dengan ini, dan bersama kita.